SUBBAG PERENCANAAN& PELAPORAN DINAS PENDIDIKAN KAB. BELITUNG

" Tatalah Perencanaan dari mulai awal sehingga memudahkan dalam menentukan arah tujuan yang ingin dicapai, Evaluasi setiap ketercapaian dari realisasi untuk menentukan arah ke depan, yakinlah akan berhasil" (Subbag Perencanaan dan Pelaporan Dinas Pendidikan Kab. Belitung)

Senin, 18 Agustus 2008

Fenomena Guru

I. REVIEW ARTIKEL
Dari artikel yang berjudul “ Fenomena Guru dalam mengejar Teknologi “ memang sangat ironis sekali bahwa seorang guru mau tidak mau diharuskan mengikuti perkembangan dunia teknologi informasi khususnya internet , di satu sisi bagi seorang guru dunia teknologi informasi merupakan dunia yang sulit dicerna karena keterbatasan kemampuan. Guru-guru senior tersebut merupakan produk pendidikan sebelum perkembangan internet secepat dan sedahsyat seperti sekarang ini, akan tetapi apabila guru-guru yang ada pada saat ini tidak berusaha meningkatkan kompetensinya maka bukan tidak mungkin siswa yang ada sekarang ini pergi ke sekolah hanya sebagai kegiatan rutinitas keharusan agar masih diakui sebagai pelajar dalam statusnya, karena siswa dapat belajar melalui internet dalam mencari bahan-bahan untuk belajar tanpa perlu bimbingan dari seorang guru sehingga dampak yang lebih ekstrim lagi adalah sekolah-sekolah akan ditinggalkan oleh siswa-siswanya sehingga akan menjadi bangku-bangku kosong dan mereka beranggapan tanpa sekolah pun mereka dapat ilmu pengetahuan, referensi, artikel dan sebagainya. Untuk meningkatkan kompetensinya kadangkala seorang guru :
1. terjebak dalam kegiatan rutinitas sehari-hari
2. kurikulum yang masih betuntutan ekonomi
Dengan kondisi seperti ini, sekolah hanya dijadikan semacam industri atau ajang bisnis dalam upaya untuk mencukupi kebutuhan ekonomi yang pada akhirnya mutu pendidikan diabaikan sama sekali, ini dapat dilihat dari sulitnya guru-guru dalam mengikuti perkembangan dunia teknologi informasi khususnya internet, di satu sisi siswa-siswa sangat getol dalam mengikuti perkembangan teknologi informasi sehingga informasi yang didapat siswa lebih up to date dibandingkan dengan gurunya sehingga kualitas sekolah negeri (pemerintah) akan lebih rendah dibandingkan dengan sekolah swasta. Akan tetapi yang sangat ironis adalah pemerintah sanggup membuat standar minimal nilai bagi seluruh siswa tanpa dibarengi dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memadai sehingga tanpa disadari pemerintah telah menciptakan generasi numerik tanpa menyentuh nilai-nilai kemanusian. Dari review di atas perencana dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Kurangnya kompetensi guru di bidang teknologi informasi
2. Kurikulum yang masih belum final (gonta-ganti)
3. Kurang sejahteranya ekonomi guru
II. ANALISIS PEMECAHAN MASALAH
Menurut Alvin Tofler, untuk menggambarkan situasi sekarang yang membuat kita terlempar pada kondisi dimana kita mengalami ”tekanan yang mengguncangkan dan hilangnya orientasi individu disebabkan kita dihadapkan dengan terlalu banyak perubahan dalam waktu yang terlalu singkat. Akan tetapi sampai kapan pun pendidikan sebagai suatu upaya menghadapkan manusia (peserta didik) pada realitas yang terus saja berubah saat ini sangat diharapkan perannya untuk mampu mengikuti arus zaman, bukan berarti untuk mengikis kemanusian melainkan justru untuk menemukan kondisi air kehidupan yang memungkinkan jiwa raga bangsa terasa dengan indah. Kemajuan teknologi informasi merupakan salah satu bentuk globalisasi sebagai arus utama yang membawa dampak maha hebat terhadap ruang dan waktu yang mengalami percepatan dalam bahasa Anthony Giddens adalah time space distanziation. Salah satu dampak globalisasi adalah kemajuan IPTEK dalam bidang teknologi informasi yaitu pembelajaran dengan menggunakan internet di sekolah-sekolah yang secara langsung telah membentuk masyarakat, peserta didik dan juga tenaga pengajar yang tidak luput dari doktrin global.
Sebagai sebuah profesi, guru dituntut dengan berbagai kewajiban sebagai sebuah pekerjaan, maka sudah selayaknya seorang guru mendapat perhatian lebih pemerintah dikarenakan guru sebagai kunci atau posisi sentral dalam peningkatan kualitas pendidikan . Mutu pendidikan kita mendapat sorotan tajam dikarenakan keterpurukan pendidikan yang dapat mempengaruhi pembangunan sektor-sektor lainnya. Guru adalah sosok manusia sederhana, profil manusia yang selalu berada pada posisi kunci, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Guru adalah pelaksana proses pembelajaran sehingga ditangan merekalah SDM berkualitas dibentuk dengan penuh profesional, penuh kompetitif atau berdaya saing tinggi dalam mengaktualisasikan dirinya di era pasar global. Dengan beratnya tanggungjawab tersebut sudah selayaknya mereka diberikan penghargaan yang layak dengan sistem insentif sehingga diharapkan komitmen guru akan memberikan pelayanan yang terbaik. Untuk memberikan pelayanan terbaik, seorang guru harus meningkatkan kualifikasinya sehingga guru-guru tersebut memiliki kompetensi setidak-tidaknya memiliki kualifikasi pendidikan strata satu (S-1). Rendahnya mutu pendidikan disebabkan oleh ketersedian SDM yang terbatas. SDM sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan masyarakatnya, dan tingkat pendidikan masyarakat sangat ditentukan oleh kebijakan pembangunan pendidikan. Apabila pemerintah kurang memberikan perhatian dan prioritas pembangunan pendidikan, maka akan berdampak pada kualitas masyarakatnya dan apabila disusun secara hirarki bahwa kualifikasi guru sangat mempengaruhi terhadap kualitas pembelajarannya sehingga dengan sendirinya akan berdampak terhadap hasil belajar murid-muridnya. Dengan melihat besarnya tuntutan manusia Indonesia di masa depan, maka strategi belajar mengajar yang dikembangkan tidak cukup sekedar menempatkan guru pada posisi sentral akan tetapi sebaliknya yaitu peserta didik yang harus lebih banyak belajar mandiri.
Dari review artikel ” Fenomena Guru dalam Mengejar Teknologi” telah dapat diidentifikasi permasalahan yang terjadi sehingga dalam mencari pemecahan masalah diperlukan analisis secara komperehensif. Kondisi ideal yang telah dijelaskan dalam penjelasan di atas sangatlah berbeda sekali dengan fenomena yang terjadi dalam kondisi nyata di lapangan , dimana guru dengan segala keterbatasan kompetensinya di bidang teknologi informasi terutama dalam menggunakan fasilitas internet dalam mencari bahan ajar yang akan disampaikan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Untuk saat ini siswa sebagai peserta didik dalam persoalan pemanfaatan teknologi informasi terutama fasilitas internet bukan barang langka lagi akan tetapi sudah familiar sehingga kadangkala bahan ajar yang akan diajarkan mereka sudah mengetahui terlebih dahulu sehingga bukan mustahil siswa lebih mengetahui bahan ajar tersebut dibandingkan dengan gurunya. Pengetahuan teknologi informasi terutama fasilitas internet bukan hanya diketahui oleh guru TI saja akan tetapi harus diketahui dan dimanfaatkan seluruh guru tanpa terkecuali baik guru senior maupun guru junior.
Untuk memecahkan permasalahan ini, perencana akan menggunakan analisis SWOT dengan melihat faktor-faktor internal dan eksternal sebagai pertimbangan dalam menentukan prioritas strategi yang akan dimanfaatkan dalam memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut. Dari permasalahan-permasalahan tersebut kita harus menetapkan faktor internal dan faktor eksternal sehingga nantinya menjadi acuan dalam mencari solusi pemecahan permasalahan ”kurangnya kompetensi guru di bidang teknologi informasi”. Sebelum melaksanakan analisa perencana harus mengetahui terlebih dahulu faktor internal dan eksternal sebagai bahan untuk mencari startegi yang tepat dalam pemecahan masalah. Adapun faktor internal berupa Strenghs ( Kekuatan) dan Weakness ( Kelemahan ) yaitu :
§ Strength (Kekuatan)
1. Guru sebagai pendidik
2. tingginya kredibilitas guru
3. Dukungan pemerintah dalam peningkatan kualifikasi


§ Weaknesses(Kelemahan)
1. minimnya sarana dan prasarana teknologi informasi di sekolah
2. kurikulum yang berganti-ganti
3. kurangnya reward terhadap guru
Adapun faktor eksternal berupa Oppurtunity ( Peluang) dan Threaths (Ancaman ) yaitu :
§ Oppurtunity (Peluang)
1. kebutuhan SDM profesional di era globalisasi
2. banyaknya lembaga pendidikan swasta yang berdiri
3. tingginya minat siswa dalam bidang teknologi informasi
§ Threaths (Ancaman)
1. kebijakan pendidikan selalu terkait dengan partai politik
2. Kurang sejahteranya ekonomi guru
3. tingginya standar minimal nilai bagi siswa yang ditetapkan pemerintah
Dengan telah diketahuinya kondisi lingkungan internal dan eksternal, perencana dapat dapat melakukan analisis selanjutnya yaitu guna menetapkan faktor-faktor kunci keberhasilan suatu organisasi sehingga faktor-faktor kunci tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam menetapkan langkah-langkah dan strategi penyelesaian masalah dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, yaitu :
§ Strategi peningkatan kompetensi guru di bidang teknologi informasi
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Oppurtunity (Peluang)
Threats(Ancaman)

§ kebutuhan SDM profesional di era globalisasi
§ banyaknya lembaga pendidikan swasta yang berdiri
§ tingginya minat siswa dalam bidang teknologi informasi
§ kebijakan pendidikan selalu terkait dengan partai politik
§ Kurang sejahteranya ekonomi guru
§ tingginya standar minimal nilai bagi siswa yang ditetapkan pemerintah

Strength (Kekuatan)

Strategi S-O

Strategi S-T
§ Guru sebagai pendidik
§ tingginya kredibilitas guru
§ Dukungan pemerintah dalam peningkatan kualifikasi

Optimalkan dukungan pemerintah dalam peningkatan kualifikasi guru dengan memanfaatkan lembaga pendidikan swasta untuk memenuhi SDM profesional di era globalisasi
Tingkatkan kesejahteraan ekonomi guru dengan melihat besarnya kredibiltas guru dalam pencapaian standar minimal nilai siswa

Weaknesses (Kelemahan)

Strategi W-O

Strategi W-T
§ minimnya sarana dan prasarana teknologi informasi di sekolah
§ kurikulum yang berganti-ganti
§ Kurangnya reward terhadap guru

Optimalkan SDM profesional di era globalisasi melalui pengadaan sarpras teknologi informasi di sekolah
Upayakan kesejahteraan ekonomi guru dengan memberikan reward terhadap guru yang memanfaatkan sarpras teknologi informasi di sekolah

Dari analisis SWOT ini didapat 4 (empat) faktor-faktor kunci dalam menerapkan strategi-strategi sehingga dapat dikembangkan menjadi program dan kegiatan . Dari keempat strategi tersebut dapat dihitung dengan pembobotan dan skor sehingga dapat diketahui strategi mana yang menjadi skala prioritas strategi dengan menilai urgensi faktor-faktor lingkungan internal-eksternal . Misalkan setelah dilakukan pembobotan yang menjadi prioritas adalah ”optimalkan dukungan pemerintah dalam peningkatan kualifikasi guru dengan memanfaatkan lembaga pendidikan swasta untuk memenuhi SDM profesional di era globalisasi”. Maksudnya guru-guru yang belum memiliki kualifikasi yang sesuai harus ditingkatkan kompetensinya sehingga pengetahuannya bertambah dan tidak gagap teknologi serta akan terjadi keseimbangan dalam bidang teknologi informasi terutama dalam pemanfaatan fasilitas internet dalam membantu proses belajar mengajar anatara guru dan peserta didik sehingga peserta didik dalam belajar bukan hanya sifatnya rutinitas akan tetapi memang benar-benar ingin belajar datang ke sekolah . Dengan begitu sekolah –sekolah yang ada di Indonesia tidak akan ditinggalkan siswanya dan guru sebagai posisi sentral dalam mencetak SDM yang berkualitas memang dihargai dalam bentuk reward nantinya yaitu pemberian insentif atau tunjangan-tunjangan lainnya sehingga tingkat kesejahteraan ekonominya dapat meningkat dan tidak akan malas-malasan dalam menunaikan tugas sebagai guru.

IV. Kesimpulan
Dengan melihat fenomena nyata di lapangan , dimana seorang guru dihadapkan pada kenyataan kemajuan teknologi informasi terutama dalam memanfaatkan fasilitas internet dalam membantu proses belajar mengajar akan tetapi mereka tidak dapat memanfaatkan yang disebabkan oleh rendahnya kompetensi mereka di bidang teknologi informasi di satu sisi siswa sebagai peserta didik bukan hal yang baru mengenai pemanfaatan fasilitas internet sehingga untuk mengantisipasi hal tersebut pemerintah dengan dukungannya berupaya meningkatkan kualifikasi guru-guru dengan memanfaatkan lembaga swasta untuk mencetak SDM profesional di era globalisasi seperti sekarang ini.


V. Rekomendasi
Berdasarkan tulisan di atas, perencana merekomendasikan hal-hal yang perlu mendapat perhatian secara serius sehingga dapat menjadi pertimbangan untuk kebijakan-kebijakan di masa yang akan datang adalah :
1. Jalin kemitraan dengan dunia usaha sehingga tanggungjawab pendidikan bukan hanya tanggunjawab pemerintah saja
2. Fungsi pemerintah dalam pembiayan sebagai fungsi penganggaran harus menjalan amanat UU No. 20 tentang sisdikas yaitu penganggaran pendidikan minimal 20 % dari total anggaran pembelanjaan

























Daftar Pustaka
Pidarta, Made, 2005, Perencanaan Pendidikan Partisipatori, Jakarta, Penerbit PT. Rineka Cipta
Syaefudin Sa’ud, Udin dan Syamsudin Makmun, Abin, 2005, Perencanaan Pendidikan, Bandung, Penerbit PT. Genesindo
Suryadi, Ace dan Budimansyah, Dasim, 2003, Pendidikan Nasional Menuju Masyarakat Indonesia Baru, Bandung, Penerbit PT. Genesindo
Tilaar, H.A.R, 2002, Membenahi Pendidikan Nasional , Jakarta, Penerbit PT. Rineka Cipta
Isjoni, 2006, Membangun Visi Bersama Aspek-aspek Penting dalam Reformasi Pendidikan , Jakarta, Penerbit Yayan Obor Indonesia

Tidak ada komentar: